Grosir Pakaian Anak

Posts Tagged ‘baju anak

Seiring perkembangan jaman usaha Toko Pakaian Bayi atau Toko Pakaian Anak yang menJual Baju Baju Anak berkembang pesat. Usaha Toko Pakaian Bayi atau Toko Pakaian Anak yang menJual Busana atau Jual Baju Baju Anak tidak pernah mati, karena Pakaian Anak atau Busana Anak merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi seorang Ibu yang baru melahirkan anak.

Kelahiran bayi baru tentu sangat membahagiakan. hari-hari baru dengan pengalaman-pengalaman baru bersama si kecil. Soal cuci-mencuci, Pakaian Anak bisa jadi merupakan pengalaman tak terduga bagi ibu baru. jumlahnya yang menumpuk dengan noda yang tergolong ‘kotoran berat’, cukup membuat kelimpungan menghadapi Busana Bayi tersebut.

Berikut kiat untuk membersihkan Pakaian Bayi atau Baju Bayi agar tetap sehat dan nyaman dikenakan si kecil.Menghilangkan Bau Pesing:

rendam Pakaian Bayi di air biasa minimal 15 menit
bilas dan kucek Baju Bayi dengan air bersih
rendam lagi Busana Bayi dengan deterjen, dan kucek setelah direndam
bilas dengan air mengalir atau di ember tapi bisa 2 kali atau 3 kali pindah ember
Menghilangkan bekas pup bayi (khususnya ASI):

buang kotoran dengan pancaran air deras ke wc
kucek dengan sabun untuk menghilangkan sisa kotoran rendam kurang lebih 30 menit kucek lagi dan sikat Beberapa Hal yang Patut Diperhatikan:
Lebih baik menggunakan sabun mandi batangan untuk menghilangkan noda pup.

Karena sifatnya yang alkalis mampu melarutkan noda organik seperti darah dan pup jangan gunakan pelembut/pewangi pakaian. Fungsi hati bayi belum lagi sempurna.

Hal ini konon dapat membuat bayi lebih kuning rendam dalam air yang diberi 1/4 cangkir baking soda sebagai pelembut dan penghilang bau serta noda setelah bilasan terakhir. Karena baking soda adalah senyawa yang terdapat dalam tubuh manusia, tentunya aman bagi bayi

SUMBER : ASIANGIRLSTYLE.COM

Advertisements

senam

Hanya karena rekan-rekan di kantor sedang bersemangat mengikuti kelas aerobik usai jam kantor, tidak berarti Anda bisa begitu saja mengikuti mereka. Perhatikan kondisi kesehatan dan usia Anda. Bila Anda memilih olahraga dengan tepat, Anda bahkan bisa lebih fit daripada orang-orang yang lebih muda.

“Umur itu hanya sekadar angka,” demikian pendapat Patrick Murphy, trainer yang kerap memimpin acara olahraga di TV. “Saya punya klien berusia 40-an dan 50-an tahun yang justru sedang sehat-sehatnya. Mereka dapat berlari beberapa putaran, padahal anak-anak muda mungkin baru mulai berlari.”

Berapa pun usia Anda, sebaiknya Anda mengawali dengan baik. “Program latihan yang baik selalu mengutamakan kestabilan lebih dulu, baru kemudian mengasah kekuatan,” jelas Murphy. Hal ini akan mencegah cidera dan membuat kecepatan dan kekuatan bekerja lebih tepat.

Yang lebih penting, Anda perlu memastikan latihan yang paling aman dan paling efektif. Tergantung dari usia Anda, berikan perhatian pada hal-hal berikut.

Usia 20-an: Saat tubuh Anda masih muda, kuat, dan sehat, sungguh menggoda rasanya untuk berfokus pada pembentukan otot. Namun pastikan untuk memberi perhatian pada bagian tubuh yang lebih kecil namun sama pentingnya, seperti pangkal lengan. “Jika Anda hanya melakukan push up, Anda hanya menguatkan beberapa bagian saja dari tubuh Anda. Anda akan mengencangkan otot dada dan otot bahu, sehingga Anda menciptakan bahu yang lebih berisi,” lanjut Murphy.

Untuk menghindari hal ini, lakukan gerakan membungkuk sambil membawa dumbbell, lalu gerakkan tangan ke arah berlawanan dari saat Anda menekukkan tangan dalam gerakan push up.

Usia 30-an dan 40-an: Sebaiknya Anda melakukan pemanasan dengan berjalan lebih dulu sebelum berlari. “Ketika berusia 20-an Anda tidak perlu melakukan hal ini karena tubuh Anda selalu hangat,” ujar trainer Marco Reed. “Jika Anda sudah berusia 30-an atau 40-an, Anda harus selalu ingat untuk melakukan pemanasan. Pastikan Anda melakukan pemanasan selama 5-10 menit untuk melancarkan aliran darah.” Lakukan jalan kaki selama beberapa menit sebelum mulai berlari atau bersepeda, dan pastikan untuk melakukan peregangan sebelum dan sesudahnya untuk membatasi pegal-pegal keesokan harinya.

Usia 50-an, 60-an, dan selanjutnya: Hanya karena sendi-sendi Anda sudah tidak senyaman sebelumnya, tidak berarti Anda harus berolahraga di atas kursi atau melakukan gerakan low-intensity yang membuat Anda lebih merasa rapuh daripada sebelumnya. Kurangi benturan pada sendi dengan mengalihkan perhatian pada pinggang dengan Pilates, latihan yang dilakukan di lantai namun mampu menguatkan otot-otot. “Latihan ini tidak membuat benturan pada sendi, dan bagus untuk memulai latihan selanjutnya,” kata Teri Ann Krefting, yang menyarankan untuk memulai latihan secara bersama-sama, atau dengan grup, mengingat intensitas latihannya. Begitu Anda membangun kekuatan dan kestabilan, akan lebih mudah dan nyaman untuk kembali ke rutinitas semula.
DIN
Sumber : Shine

01036prasekolah

KENAKALAN anak diidentikkan dengan ketidakmampuan orangtua mendidik. Padahal, dalam penelitian, faktor pencetus kenakalan disebabkan enzim yang tidak seimbang. Benarkah?

Banyak orang beranggapan jika anak nakal itu disebabkan lingkungan atau orangtua yang tidak mendidik anak-anaknya dengan baik. Sebenarnya anggapan itu ada benarnya. Namun, dalam penelitian yang dilakukan Institut Psikiatri di London, Inggris. Hasil penelitian yang dilansir New Scientist mengungkapkan, enzim yang disebut monoamine oxidase A atau MAO-A memiliki pengaruh pada perilaku agresif anak.

Anak yang lebih nakal dibandingkan dengan teman lain sebayanya memiliki enzim ini lebih banyak. Ketua Peneliti,Terrie Moffitt, melakukan penelitian dengan mengambil contoh darah dari 535 anak laki-laki dan 502 anak perempuan yang lahir di Selandia Baru dan yang terdaftar di Dunedin Multidisciplinary Health and Development Study yang dikelola Universitas Otago, Dunedin, Selandia Baru. Melalui tes darah tersebut, para peneliti memfokuskan pada tipe gen yang mengandung enzim MAOA. Tipe gen inilah yang mengendalikan perilaku agresif pada manusia dan hewan.

Kemudian para peneliti membandingkan interaksi antara aktivitas gen MAO-A dan kriminalitas serta kekerasan pada masa kanak- kanak, yang diketahui sebagai faktor penentu untuk perilaku antisosial ketika mereka dewasa. Para responden anak laki-laki kemudian dibagi menjadi dua grup berdasarkan contoh darah, tipe gen MAO-A mereka, dan pengalaman mereka pada kekerasan saat masa kanak-kanak.

Pemisahan ini mengungkapkan bahwa variasi gen MAO-A pada anak laki-laki tidak dapat dengan sendirinya memengaruhi perilaku anak tersebut ketika dewasa. Namun, kondisi ini berbeda jika mereka memiliki pengalaman kekerasan saat masa kanak-kanak dan hasilnya sangat mengejutkan.

Anak laki-laki dengan tingkat gen MAO-A rendah, tetapi mengalami kekerasan saat masa kanak-kanak memiliki kecenderungan 3 kali lebih besar untuk memiliki perilaku menyimpang saat remaja, dan 10 kali lebih besar untuk melakukan tindak kriminal saat mereka dewasa, dibandingkan dengan mereka yang juga memiliki tingkat MAO-A rendah, tetapi tidak mengalami kekerasan fisik.

Kondisi yang kurang lebih sama juga ditemukan pada mereka yang memiliki tipe gen MAO-A tinggi. Dalam kategori perilaku antisosial, ternyata hanya ada perbedaan minor antara anak-anak yang memiliki tipe gen MAO-A tinggi dan sempat mengalami kekerasan fisik dan yang tidak.

Pada akhirnya,Terrie menyimpulkan bahwa genetik memengaruhi hampir separuh dalam variasi perilaku antisosial. Dengan mengidentifikasi gen-gen tersebut, mereka berharap dapat menemukan perawatan dan penanganan yang tepat untuk anak-anak tersebut sebelum terlambat.

“Dalam penelitian tersebut diketahui bahwa kenakalan pada anak-anak juga didasari kelainan gen. Kenakalan itu hanya bisa diatasi dengan memberikan pendidikan yang baik dan benar kepada mereka,” kata dia.

Terrie menyebutkan, pendidikan yang utama dan pertama adalah keluarga. Dengan lingkungan keluarga akan terbentuk sifat, watak, dan perilaku misalkan dalam sebuah keluarga orangtua kurang perhatian terhadap anak, maka anak tersebut akan menjadi nakal (kurang terkontrol) demikian juga sebaliknya kalau lingkungan itu baik ada perhatian orang tua, maka anak akan tumbuh dengan baik.

“Dalam mendidik anak, kita harus mengetahui sifat-sifatnya misalkan anak yang mempunyai sifat pendiam kita dekati dengan halus sehingga anak tersebut mau bercerita tentang masalah yang terjadi, berarti kita menggunakan cara yang halus untuk menghadapinya. Lain lagi dengan anak yang mempunyai sifat keras, kita harus menghadapinya dengan tegas dan keras,” ucapnya.

Selain melihat dari lingkungan keluarga dan sifat anak, harus dilihat pula latar belakang keluarga. Jika dalam keluarga tersebut mempunyai latar belakang yang baik, secara otomatis anak akan meniru yang baik. Namun akan berbanding terbalik jika dalam keluarga tersebut mempunyai latar belakang yang kurang baik, anaknya akan mengikuti tidak baik pula.

“Intinya adalah pendidikan dan arahan yang tepat. Tanpa itu, anak-anak dengan kelainan gen, akan semakin agresif dan tidak terkontrol di kemudian hari,” tutur dia. (Koran SI/Koran SI/ftr)

hatchi

Film kartun anak di televisi berjudul Hatchi mengisahkan Hatchi, seekor anak lebah madu yang tengah mencari ibunya. Ia tak pernah lelah terus berjalan untuk mencari sang ibu. Perjalanan yang dilaluinya tidak mudah dan banyak hambatan. Sebagai seekor anak lebah yang masih kecil, lemah, dan ringkih, Hatchi tidak jarang menghadapi hambatan yang begitu besar sehingga ia sendiri kadang tidak berdaya dan pasrah.

Namun, setiap kali ia berada dalam situasi terjepit dan tak berdaya itu, selalu ada satu hal yang mampu membuatnya kembali bangkit, yakni semangatnya untuk bertemu ibunya. Dalam situasi sulit itu, Hatchi selalu berkata, “Mama, tolonglah aku!”. Mamanya, yang entah berada di mana, selalu muncul dalam bentuk bayangan yang memberi Hatchi semangat untuk bangkit dan tidak menyerah. Dengan kekuatan dan semangat itulah Hatchi selalu berhasil melalui berbagai hambatan, sebesar apa pun itu. Harapannya untuk bertemu sang ibu membuatnya mampu bangkit melawan apa saja yang menghalanginya.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa televisi bukanlah sarana hiburan yang baik bagi anak-anak, khususnya anak balita. Berbagai dampak buruk diyakini akan lebih banyak berpengaruh pada mereka daripada dampak positif. Penyebabnya tak lain adalah berbagai sajian televisi, termasuk yang dikategorikan sebagai cerita anak berupa film kartun, tidak benar-benar aman untuk anak-anak. Meskipun secara jelas ditujukan untuk penonton anak-anak, tetap saja terdapat sejumlah adegan yang dianggap tidak cocok untuk anak-anak. Contohnya adalah adegan kekerasan yang selalu muncul di setiap film tersebut.

Akan tetapi, di era seperti sekarang ini, ketika televisi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari keluarga, banyak orangtua seperti dihadapkan pada buah simalakama. Mereka serba sulit untuk membebaskan sama sekali anak-anak dari tontonan televisi. Belum lagi bila kedua orangtua bekerja dan anak lebih banyak bersama pengasuh, mereka akan sangat sulit memantau atau memilah acara televisi tersebut.

Para psikolog berpendapat, dalam masa perkembangannya seorang anak memiliki kecenderungan meniru. Ia dapat menirukan apa saja yang dilihat di lingkungan sekitarnya, misalnya perilaku orangtua, saudara, pengasuh, atau anak-anak lain, termasuk tontonan di televisi. Kecenderungan meniru ini lama-kelamaan akan membentuk watak dan perilakunya. Masih mencari bentuk

Salah satu film kartun yang cukup menarik adalah film kartun Jepang berjudul Hatchi yang disebutkan di awal tulisan ini. Film kartun ini ditayangkan di televisi anak Spacetoon. Sebagai stasiun televisi baru dengan segmen khusus anak-anak, Spacetoon tampaknya masih mencari bentuk, khususnya dalam pemilihan acara atau film anak. Selain Hatchi, film kartun yang juga menarik untuk disimak adalah Little Bear (Beruang Kecil).

Dari segi perwatakan, Hatchi digambarkan sebagai sosok yang suka menolong dan pantang menyerah meskipun ia hanya seekor anak lebah madu yang kecil dan lemah. Secara umum ada beberapa pola yang terbangun dalam cerita kartun ini.

Pertama, Hatchi terbang mencari ibunya. Kedua, dalam perjalanan ia akan bertemu anak serangga lain yang menghadapi masalah. Ketiga, Hatchi biasanya berhadapan dengan dua pihak, yaitu anak serangga yang hendak ditolongnya dan serangga lain yang meremehkan kemampuannya menolong karena ia hanyalah anak lebah kecil. Keempat, ia tidak peduli dengan cemoohan itu. Ia tetap membantu semampunya walau harus menemukan jalan buntu.

Kelima, karena masalah yang dihadapi begitu besar, kadang Hatchi pun tak berdaya. Ia hanya menangis dan memohon bantuan kepada mamanya. Keenam, pada saat kritis, dengan semangat yang ia peroleh dari bayangan mamanya Hatchi mampu bangkit kembali. Ketujuh, semangat dan keberanian Hatchi bisa menjadi inspirasi serangga lain untuk tidak menyerah dalam situasi sesulit apa pun karena akan selalu ditemukan jalan keluar. Terakhir, setelah masalah yang dihadapi selesai, Hatchi pergi lagi melanjutkan perjalanan mencari ibunya. Dalam perjalanan itu Hatchi akan menghadapi masalah lain di tempat yang berbeda.

Sebagai film anak, suasana yang terbangun dalam kartun ini kadang cukup menyeramkan saat menggambarkan situasi yang kritis. Misalnya, saat Hatchi dan teman serangganya yang kecil hendak dimakan serangga yang lebih besar, perjuangan mereka untuk melepaskan diri dari serangga besar yang jahat itu sangat dramatis dan mencekam. Spirit ibu

Yang menarik dalam cerita Hatchi adalah adanya semangat keibuan (motherhood). Seperti telah diceritakan, berbagai penjalanan yang dilaluinya adalah dalam rangka mencari sang ibu yang terpisah. Di saat-saat kritis ia selalu mampu bangkit berkat spirit of motherhood. Ketika ia menghadapi kesulitan, keletihan, kesakitan, dan keputusasaan, ibunya selalu muncul sebagai spirit. Hatchi si anak lebah pun kembali bangkit.

Bayangan dan kerinduannya kepada sang ibu mampu mengalahkan berbagai derita yang dialaminya. Bahkan, ia mampu berbagi spirit itu kepada anak serangga lainnya yang menghadapi situasi yang sama. Spirit yang selalu menyertai Hatchi itu ialah keyakinannya untuk bertemu dengan sang ibu seperti yang tertulis dalam akhir lagu, Mama, suatu saat pasti bertemu.

Di tengah berbagai tayangan anak yang memprihatinkan, film kartun Hatchi ini menjadi salah satu yang inspiratif dalam menanamkan nilai-nilai positif kepada anak. Nilai-nilai kebaikan, khususnya spirit keibuan dan kasih sayangnya, senantiasa menjadi energi tak terhingga bagi anak-anak dalam mengarungi kehidupannya yang terkadang begitu keras. Begitu pula kepedulian Hatchi kepada sesama yang diwujudkan dalam bentuk keinginannya untuk selalu menolong siapa pun yang berada dalam kesulitan.

Selayaknyalah seorang ibu mampu menjadi spirit bagi anak-anaknya. Bukan sebaliknya, ketika seorang ibu begitu khawatir dengan masa depan anak-anaknya yang begitu keras dan berat, ia malah memperlakukan mereka dengan cara yang salah.

Pepatah lama “Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah” merupakan ekspresi akan besarnya kasih sayang seorang ibu. Sayangnya, terkadang kita menemukan fenomena kasih sayang orangtua (ibu) yang begitu besar dimaknai dengan cara yang tidak tepat kepada anak. Misalnya, orangtua memanjakan anak atau sebaliknya anak menekan orangtua guna mengabulkan setiap keinginannya.

Apa pun kondisinya, yang terbaik adalah menempatkan sesuatu sesuai dengan porsinya. Bukankah dalam ajaran Islam penghormatan kepada ibu begitu besar sehingga Nabi Muhammad harus menyebutnya tiga kali ketika sahabatnya bertanya, “Siapakah orang yang patut dihormati?” Nabi menjawab, “Ibumu, ibumu, ibumu, kemudian ayahmu.” Neneng Yanti Kh Dosen STSI Bandung

1040187p

KOMPAS.com — Anda mungkin pernah terenyak kaget ketika mendengar pembicaraan putra atau putri Anda yang masih duduk di TK B dengan temannya. Putri Anda mengaku telah memiliki pacar. Memang sih, ketika sedang mengobrol dengan temannya, putri Anda tidak jelas-jelas menyebutkan nama pujaan hatinya. Pembicaraan di antara keduanya berlangsung sambil bermain. “Pacarku kan Daffa….” begitu kata si kecil.

Ya, umumnya orangtua pasti akan kaget mendengar kata “pacar” atau “pacaran” yang muncul dari mulut anak-anak prasekolah. Wajarkah? “Wajar kok!” tukas Seni S Sanusi, Psi, psikolog sekaligus konselor TK dan SD Al Azhar, Jakarta. Maksudnya, wajar saja kalau anak prasekolah mengatakan demikian.

Orangtua tak perlu kelewat cemas karena definisi pacar atau pacaran di usia ini berbeda dengan remaja. Di usia ini, buat anak “pacar” lebih identik dengan teman dekat, teman bermain yang mengasyikkan, dan lain-lain. Memang, bila ditinjau dari sudut perkembangan sosial emosi, anak prasekolah mulai menjalin pertemanan atau “dekat”, memeluk, dan mencium sebagai ungkapan sayang, senang berbicara dengan orang yang disayang, dan saling memberikan hadiah. Namun, umumnya hal ini dilakukan dengan orang yang lebih dewasa dari usianya, bukan dengan teman sebaya.

Wajar pula bila anak usia ini juga sudah dapat memilih temannya yang cantik atau ganteng. Ini karena jika dilihat dari perkembangan persepsi anak usia prasekolah sudah dapat memersepsi secara visual obyek yang “indah” dan “buruk”, yang cantik dan tampan, dan sebagainya. Lagi pula secara alamiah pun, manusia akan cenderung memerhatikan obyek yang memiliki penampilan fisik lebih cantik dan tampan. Jadi, wajar bila perhatian si prasekolah terfokus pada temannya yang lebih cantik atau tampan. Namun, ketertarikan anak tetap masih sebatas pada sosok teman dekat, tak ada maksud yang lebih dari itu.

Di usia prasekolah, anak belum memiliki kebutuhan akan pujaan hati seperti pada usia remaja, misalnya. Pada rentang usia prasekolah, mereka sebenarnya masih disibukkan untuk memenuhi kebutuhan mendasar mereka, yaitu makan, minum, istirahat, dan bermain. Selain juga si prasekolah masih bersikap egosentris, dimana fokus perhatian mereka adalah kebutuhan pribadinya, sehingga masih senang memaksakan keinginan.

Jadi, jangan pernah membayangkan, konsep berpacaran si prasekolah sama dengan anak-anak remaja. Konsep tentang pacaran yang dipahami oleh si prasekolah sebatas hanya terlihat berduaan, ada kontak fisik, dan bermain bersama. Persis yang sering mereka lihat di tayangan televisi dan iklan-iklan. Tidak akan ada pertengkaran, perbedaan pendapat, dan lain-lain. Untuk itu, tak perlu terlalu dikhawatirkan.

Alihkan perhatiannya
Lalu dari mana anak mendapatkan kata “pacar”, “pacaran”, atau bahkan “perjodohan”? Boleh jadi itu didapat dari tayangan televisi yang banyak bercerita mengenai hubungan dengan lawan jenis, misalnya cerita-cerita Disney seperti Cinderella, Snow White, dan lain-lain, yang selalu dikaitkan dengan putri cantik dan pangeran tampan. Mungkin juga dari sinetron atau bahkan reality show yang banyak mengupas masa pacaran di saat remaja. Bahkan, bisa jadi pula orang-orang terdekat memberikan pengaruh kepada anak tentang hubungan dengan lawan jenis; bisa saudara, paman, atau sosok dekat lainnya yang secara tak sadar “mengenalkan” arti pacaran.

Nah, ada kemungkinan kondisi ini membuat anak terpaku pada teman dekatnya. Bermain selalu dengan teman dekat itu, dan mengabaikan teman yang lain. Jika ini terjadi, orangtua perlu mengenalkan anak pada teman-temannya yang lain. Dengan begitu, kemampuan sosialisasinya semakin kaya karena dia berinteraksi dengan beragam karakter anak. Jadi, ajak anak bermain dengan teman yang lain. Bila “pacar”-nya adalah satu kelompok di sekolah, mintalah bantuan pihak sekolah (guru kelas) untuk memindahkan anak ke kelompok yang lain.

Orangtua juga perlu menyeleksi tayangan televisi. Dampingi anak ketika menonton. Jangan biarkan anak mengonsumsi tontonan yang memperlihatkan relasi lawan jenis terlalu dini, walaupun hanya sekadar gambar atau kartun. Selain itu, isi jadwal anak dengan berbagai aktivitas positif seperti keterampilan yang dapat mengasah kemampuan motorik halus dan kasar anak. Dengan begitu, fokus perhatian adalah pada pengembangan rasa ingin tahunya dan keterampilan dirinya.

Tak kalah penting, hindari terlalu membesar-besarkan minat anak ketika mulai menyinggung mengenai pacaran. Walau itu dilakukan dengan tujuan iseng sekalipun. Maksudnya, ketika anak mulai menyinggung atau mengobrol tentang pacaran, jangan malah ditanggapi walaupun hanya sekadar bercanda, apalagi sampai mengolok-oloknya. Ini akan membuat anak bersikap malu-malu. Kondisi ini akan bertambah buruk bila teman-temannya ikut menggoda. Tentunya, ini akan memengaruhi rasa percaya dirinya. Oleh karena itu, sebaiknya ketika ada obrolan tentang pacaran, segera alihkan kepada tema lain yang lebih berkaitan dengan dunia anak-anak, seperti permainan yang sedang tren, film anak-anak, dan lain-lain.

sumber : perempuan.kompas.com

s742

S742 Rp. 31.500

  • Bahan Katun ,
  • Ukuran (Pj 89, Lb 91), Cel (Pj 83, Lb 52),
  • Detail : Hias bordir, Kantung mukena dengan tali

crita

KOMPAS.com — Membacakan dongeng untuk anak tak hanya bisa membantu mendekatkan orangtua dengan anak, tapi juga mengajak si kecil berimajinasi dan membantunya lebih percaya diri. Berikut tips yang bisa Anda lakukan untuk memulai ritual seru bersama anak-anak.

Mendekatkan diri
Membaca bersama anak merupakan sebuah kesempatan untuk Anda memberikan perhatian penuh dan tak terbagi kepada anak. Semakin  penuh kasih dan akrab waktu yang Anda lakukan, semakin senang si anak, sehingga waktu untuk membaca dongeng merupakan waktu yang ditunggu anak.

Tak perlu memilih satu waktu khusus, tiap Anda sempat bisa dijadikan ritual yang menyenangkan. Misalnya, saat memandikan si kecil, ketika dia tak mau diam mencipratkan air ke mana-mana, Anda bisa membuat cerita dadakan. Atau, seperti di film-film, ketika menjelang waktu tidurnya.

Hanya dengan mendengar suara Anda dan bisa menatap wajah Anda saja sudah membuat si kecil senang dan merasa aman, apalagi jika Anda jarang bertemu.

Ritual Wajib Harian
Meski hanya beberapa menit, membaca bersama anak harus dilakukan sehari-hari. Kecintaan membaca buku pada diri anak akan terbentuk ketika ia menyadari bahwa membaca itu penting untuk Anda sehingga mereka akan menanti waktu-waktu membaca bersama Anda secara reguler.

Tak masalah juga jika Anda membuat kegiatan ini sebuah ritual harian yang dijadwalkan/dijadikan kebiasaan. Hal ini selain mengakrabkan, juga membuat dia lebih memahami isi buku.

Efek Suara
Jangan malu-malu untuk menjadi seorang aktor dadakan. Entah itu dengan membuat suara dedaunan yang tertiup angin, suara nyanyian burung, siulan angin, apa pun itu, bersuaralah. Anak-anak suka efek suara, tapi efek-efek yang membuat dongeng lebih seru pasti disukai.

Juara Akting
Bayi dan balita belajar lewat seluruh indera mereka. Hanya dengan mengulang-ulang perintah Anda atau cerita tak akan membuat mereka paham seketika. Mereka suka mencoba berbagai hal baru melalui mulut, hidung, jari-jarinya, semuanya.

Jika mereka ingin mencoba menggigit buku, biarkan, tapi pastikan bukunya bersih. Atau jika balita Anda senang menggigit, beli buku yang terbuat dari kain untuk dia bermain saat dibacakan cerita.

Anda juga bisa berakting, misalnya dengan ikut menggigit bukunya ketika ceritanya tentang ulat yang sedang kelaparan, buat bunyi seakan-akan si ulat sedang kesenangan bisa memakan daunnya atau main-main dengan akan menggigit pula tangan si kecil. Kelitiki perut si kecil seakan mendemonstrasikan kepakan sayap kupu-kupu di perutnya.

Jangan malu untuk menggunakan tubuh Anda sebagai media cerita. Misalnya bagaimana kuda berdiri dengan 4 kaki, bagaimana kuda berbunyi, bagaimana kuda menendang dengan kaki belakangnya. Tunjukkan pada si kecil bahwa buku bisa jadi menyenangkan dan ‘hidup’. Yang diperlukan hanya sedikit imajinasi dan kemauan.

Rewind
Anak-anak tak hanya suka pengulangan, itu adalah cara mereka belajar. Membaca buku yang sama berkali-kali membantu mereka mengenali dan mengingat setiap kata dan mengira-ngira apa yang akan datang setelah ini.

Untuk membuat pikiran mereka lebih berkembang, dan supaya Anda tak bosan, coba cari elemen lain yang bisa Anda terangkan dari cerita itu. Apakah itu bagaimana jahatnya saudara tiri Sinderela dan hal itu tak boleh dilakukan. Coba cari sudut lain dari ceritanya.

Ajak si kecil ikut berinteraksi dengan Anda dengan sesekali berhenti sejenak dari tengah-tengah cerita dan bertanya kepadanya. Tanyakan, “Apa yang menurut kamu si singa akan berkata kepada si tikus?” Atau “Kalau kamu jadi si tikus, apa yang akan kamu lakukan?”

Bawa kehidupan sehari-hari ke dalam cerita juga, misalnya “Si Tudung Merah sedang berjalan ke rumah neneknya, seperti kamu waktu minggu lalu ke rumah nenek, yah”

Anak-anak kecil tak begitu peduli dengan urutan ceritanya. Mereka senang hanya dengan mendengar suara Anda yang penuh antusias. Jangan membatasi diri Anda sesuai teks. Lompati teks sesuka Anda. Berkreasi bebaslah dengan menambahkan suara-suara atau menambahkan di sana-sini.

Biarkan si kecil menentukan aturannya. Anak-anak sering mengambil buku yang ia mau, lalu langsung membuka halaman belakang, melewatkan beberapa halaman sekaligus, atau bahkan menutup bukunya. Jangan takut atau mundur, ikuti saja.

Jangan berhenti bercerita, tentu dengan melihat maunya si kecil, jika dia tiba-tiba ngambek dan tak mau mendengarkan cerita, hentikan. Saat mengakhiri cerita, jangan lupa berikan sinopsis untuk cerita esok. Misalnya, saat menutup buku Si Tudung Merah, katakan “Selamat tidur, Tudung Merah. Rangga pergi dulu, besok kita main dekat rumahmu, ya?”

Tambahkan Cerita
Perlahan tapi pasti, tambahkan jenis bacaan. Saat perhatian si anak bertambah, perkenalkan anak Anda ke bacaan yang sesuai usianya, seperti Harry Potter, atau Stuart Little, dan lainnya.

Ingatlah, membaca bersama anak tak perlu harus berakhir. Bahkan ketika mereka sudah cukup dewasa untuk membeli buku sendiri. Seumur hidup Anda, anak dan Anda akan menumbuhkan kedekatan untuk mau saling berbagi, setidaknya untuk berdiskusi tentang buku.
NAD
Sumber : ivillage