Grosir Pakaian Anak

Posts Tagged ‘anak

Seiring perkembangan jaman usaha Toko Pakaian Bayi atau Toko Pakaian Anak yang menJual Baju Baju Anak berkembang pesat. Usaha Toko Pakaian Bayi atau Toko Pakaian Anak yang menJual Busana atau Jual Baju Baju Anak tidak pernah mati, karena Pakaian Anak atau Busana Anak merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi seorang Ibu yang baru melahirkan anak.

Kelahiran bayi baru tentu sangat membahagiakan. hari-hari baru dengan pengalaman-pengalaman baru bersama si kecil. Soal cuci-mencuci, Pakaian Anak bisa jadi merupakan pengalaman tak terduga bagi ibu baru. jumlahnya yang menumpuk dengan noda yang tergolong ‘kotoran berat’, cukup membuat kelimpungan menghadapi Busana Bayi tersebut.

Berikut kiat untuk membersihkan Pakaian Bayi atau Baju Bayi agar tetap sehat dan nyaman dikenakan si kecil.Menghilangkan Bau Pesing:

rendam Pakaian Bayi di air biasa minimal 15 menit
bilas dan kucek Baju Bayi dengan air bersih
rendam lagi Busana Bayi dengan deterjen, dan kucek setelah direndam
bilas dengan air mengalir atau di ember tapi bisa 2 kali atau 3 kali pindah ember
Menghilangkan bekas pup bayi (khususnya ASI):

buang kotoran dengan pancaran air deras ke wc
kucek dengan sabun untuk menghilangkan sisa kotoran rendam kurang lebih 30 menit kucek lagi dan sikat Beberapa Hal yang Patut Diperhatikan:
Lebih baik menggunakan sabun mandi batangan untuk menghilangkan noda pup.

Karena sifatnya yang alkalis mampu melarutkan noda organik seperti darah dan pup jangan gunakan pelembut/pewangi pakaian. Fungsi hati bayi belum lagi sempurna.

Hal ini konon dapat membuat bayi lebih kuning rendam dalam air yang diberi 1/4 cangkir baking soda sebagai pelembut dan penghilang bau serta noda setelah bilasan terakhir. Karena baking soda adalah senyawa yang terdapat dalam tubuh manusia, tentunya aman bagi bayi

SUMBER : ASIANGIRLSTYLE.COM

Advertisements

Orangtua perlu memberi penjelasan seputar masalah seksualitas kepada anak sesuai perkembangan usia. Berikut tips dari psikolog Clara Kriswanto dari Jagadnita Consulting yang diberikan daam acara bincang-bincang bertopik Bicara Seks pada Anak, di Jakarta akhir November lalu.

Usia 0-3 tahun
* Bantu mereka merasa nyaman dengan tubuhnya.
* Sentuh dan dekaplah anak agar merasakan kasih saying.
* Ajarai perbedaan anatomi tubuh pria dan perempuan.
* Jeaskan secara sederhana proses tubuh, seperti melahirkan dan hamil.
Usia 4-5 tahun
* Ajari nama yang benar dari bagian tubuh dan fungsinya.
* Jelaskan bagaimana bayi bisa berada dalam kandungan ibu.
* Dukung anak agar datang kepada orangtua untuk bertanya mengenai seks.
Usia 6-8 tahun
* Berikan informasi mendasar tentang permasalahan seksual.
* Beritahukan tentang perubahan yang akan dialami bila menginjak pebertas.
Usia 9-12 tahun
* Bantu mereka memahami masa pubertas.
* Bantu mereka memahami: walaupun secara fisik sudah dewasa, tetapi aspek kognitf dan emosional masih beum dewasa untuk berhubungan intim.
* Beri mereka pemahaman bahwa banyak cara untuk mengekspresikan cinta, tanpa perlu melakukan hubungan intim.
Usia 13-17 tahun
* Ajarkan tentang nilai-nilai keluarga dan agama.
* Sampaikan bahwa ada berbagai cara untuk mengekspresikan cinta.
* Diskusikan tentang perilaku seks yang tidak sehat dan terlarang.
Saat anak bertanya tentang seks
* Orangtua perlu peka terhadap bahasa mereka tetapi juga memberikan istilah yang sesuai.
* Terangkan kepada anak arti kata yang didengarnya dari media atau orang lain.
* Dengarkan dulu anak bicara. Pahami maksud mereka tentang seks.
* Hargai sudut pandang anak.
* Jawab dengan jujur dan jangan ditunda.
* Jangan mengambil kesimpulan terlalu cepat.
* Jawab pertanyaan dengan sederhana tetapi tepat.
* Akui bila tidak tahu jawabannya.
* Gunakan setiap kesempatan untuk diskusi.

Source:Kompas

1ModelKontras

Baju Anak. Siapa, sih, yang tidak mau membelinya? Apalagi menjelang Lebaran atau Natal dan Tahun Baru seperti ini. Kalau Anda punya anak, minimal pasti membelikannya satu potong busana menjelang lebaran (Baju Muslim Anak) atau natal dan tahun baru. Ya, berapa pun umur anak Anda sekarang, minimal dia juga merayakan Lebaran atau Natal dan Tahun baru. Masalahnya, bagaimana kalau dana terbatas?

Bu Mira, tetangga saya, kemarin terlihat bersungut-sungut pada si kecil Adi (3) yang menolak Baju pemberiannya. “Susah, Pak, maunya cuma kaos yang ada gambar Donal Bebeknya. Dibelikan yang lain, enggak dipakai, kan, saya jadi buang uang percuma,” kisah Bu Mira masih dengan nada kesal. mau disimpan pun, percuma, karena tubuh si Adi cepat besar.

Pengalaman Bu Mira, mungkin pernah atau sering dialami ibu lainnya. Dari pengalaman itu, saya lihat, ada tiga hal yang jika diperhatikan, bisa membuat kita berhemat di waktu-waktu selanjutnya.

– Pastikan anak menyukai bajunya sehingga dia mau memakainya,

– Cari tempat yang menjual Baju anak dengan harga terjangkau, lihat Grosir Baju Anak dan dan Grosir Baju Muslim Anak.

– Beli satu ukuran lebih besar dibanding ukuran badannya saat ini.

Supaya lebih jelas, mari kita bahas satu per satu.

Pastikan Anak Suka & Mau Pakai
Sebenarnya ini aturan mendasar dalam berbelanja busana. Kita sendiri juga tak mau mengenakan busana yang tak kita sukai, bukan? Kesalahan yang sering terjadi, ibu-ibu main beli saja tanpa memikirkan anaknya suka atau tidak. Padahal, sejak mulai bisa menyatakan pendapatnya, anak sudah bisa menentukan baju apa yang ingin dipakainya. Mubazir, kan, kalau beli banyak-banyak tapi selera anak cuma tertentu saja seperti si kecil Adi tadi? Jadi, sedapat mungkin ajak dan libatkan anak saat membeli baju. Lihat Baju Muslim Anak dan Grosir Baju Muslim Anak.

Harga Terjangkau
Tips kedua yang harus diperhatikan, cari toko atau tempat menjual baju dengan harga terjangkau. Jangan sampai sudah diajak ke mal, anak ngotot minta sementara dana tak cukup. Ingat, konteks kita adalah bagaimana bisa hemat berbelanja baju anak (Jual Baju Muslim). Biarkan anak memilih baju sesuai seleranya. Kalau si kecil bingung, beri alternatif pilihan. Ini juga berlaku jika pilihan anak tak sesuai dengan Anda.

Satu Ukuran Lebih Besar
Selama baju itu tidak kedodoran, membeli satu ukuran lebih besar dari badannya sekarang ini, paling tidak bisa membuat baju dipakai sedikit lebih lama. Ingat, lho, satu ukuran saja selisihnya, jangan banyak-banyak.
Ketika ketiga hal di atas tadi saya ceritakan pada Bu Mira, ia pun manggut-manggut. “Betul, Pak Safir, semua itu sudah saya lakukan kecuali yang nomor satu tadi. Saya masih memilih Baju Anak sesuai selera saya saja, bukan selera anak.”

Nah, selamat berbelanja baju anak dan salam sayang untuk putra-putri Anda.

sumber : asiangirlstyle.com

senam

Hanya karena rekan-rekan di kantor sedang bersemangat mengikuti kelas aerobik usai jam kantor, tidak berarti Anda bisa begitu saja mengikuti mereka. Perhatikan kondisi kesehatan dan usia Anda. Bila Anda memilih olahraga dengan tepat, Anda bahkan bisa lebih fit daripada orang-orang yang lebih muda.

“Umur itu hanya sekadar angka,” demikian pendapat Patrick Murphy, trainer yang kerap memimpin acara olahraga di TV. “Saya punya klien berusia 40-an dan 50-an tahun yang justru sedang sehat-sehatnya. Mereka dapat berlari beberapa putaran, padahal anak-anak muda mungkin baru mulai berlari.”

Berapa pun usia Anda, sebaiknya Anda mengawali dengan baik. “Program latihan yang baik selalu mengutamakan kestabilan lebih dulu, baru kemudian mengasah kekuatan,” jelas Murphy. Hal ini akan mencegah cidera dan membuat kecepatan dan kekuatan bekerja lebih tepat.

Yang lebih penting, Anda perlu memastikan latihan yang paling aman dan paling efektif. Tergantung dari usia Anda, berikan perhatian pada hal-hal berikut.

Usia 20-an: Saat tubuh Anda masih muda, kuat, dan sehat, sungguh menggoda rasanya untuk berfokus pada pembentukan otot. Namun pastikan untuk memberi perhatian pada bagian tubuh yang lebih kecil namun sama pentingnya, seperti pangkal lengan. “Jika Anda hanya melakukan push up, Anda hanya menguatkan beberapa bagian saja dari tubuh Anda. Anda akan mengencangkan otot dada dan otot bahu, sehingga Anda menciptakan bahu yang lebih berisi,” lanjut Murphy.

Untuk menghindari hal ini, lakukan gerakan membungkuk sambil membawa dumbbell, lalu gerakkan tangan ke arah berlawanan dari saat Anda menekukkan tangan dalam gerakan push up.

Usia 30-an dan 40-an: Sebaiknya Anda melakukan pemanasan dengan berjalan lebih dulu sebelum berlari. “Ketika berusia 20-an Anda tidak perlu melakukan hal ini karena tubuh Anda selalu hangat,” ujar trainer Marco Reed. “Jika Anda sudah berusia 30-an atau 40-an, Anda harus selalu ingat untuk melakukan pemanasan. Pastikan Anda melakukan pemanasan selama 5-10 menit untuk melancarkan aliran darah.” Lakukan jalan kaki selama beberapa menit sebelum mulai berlari atau bersepeda, dan pastikan untuk melakukan peregangan sebelum dan sesudahnya untuk membatasi pegal-pegal keesokan harinya.

Usia 50-an, 60-an, dan selanjutnya: Hanya karena sendi-sendi Anda sudah tidak senyaman sebelumnya, tidak berarti Anda harus berolahraga di atas kursi atau melakukan gerakan low-intensity yang membuat Anda lebih merasa rapuh daripada sebelumnya. Kurangi benturan pada sendi dengan mengalihkan perhatian pada pinggang dengan Pilates, latihan yang dilakukan di lantai namun mampu menguatkan otot-otot. “Latihan ini tidak membuat benturan pada sendi, dan bagus untuk memulai latihan selanjutnya,” kata Teri Ann Krefting, yang menyarankan untuk memulai latihan secara bersama-sama, atau dengan grup, mengingat intensitas latihannya. Begitu Anda membangun kekuatan dan kestabilan, akan lebih mudah dan nyaman untuk kembali ke rutinitas semula.
DIN
Sumber : Shine

1043224p

Ben 10, film yang mengisahkan tentang seorang bocah yang dapat mengubah dirinya menjadi alien untuk memerangi kejahatan, ternyata membuat penontonnya yang berusia di bawah 7 tahun mengalami mimpi buruk, demikian hasil survei di Inggris. Survei ini juga membuktikan 9 film lain yang tidak cocok ditonton anak-anak usia di bawah 7 tahun, yaitu Primeval, Doctor Who, Power Rangers, Teenage Mutant Ninja Turtles, Britannia High, Grizzly Tales for Gruesome Kids, Robin Hood, Hannah Montana, dan Horrid Henry.

Beberapa film anak memang dianggap terlalu menggambarkan kekerasan, dan inilah yang membuat anak-anak mengalami mimpi buruk. Masih menurut survei tersebut, film-film yang dimaksud juga memaksa anak untuk tumbuh terlalu cepat, dan mendorong perilaku yang buruk. Para orangtua menuduh stasiun TV telah membiarkan terlalu banyak kekerasan dan sikap agresif dalam acara-acara yang dikategorikan sebagai hiburan anak atau keluarga.

Survei yang diadakan situs The Baby Website ini melibatkan 3.000 orangtua, dan 70% yang memiliki anak di bawah 7 tahun mengatakan bahwa anak-anak itu sering bermimpi seram gara-gara nonton Ben 10 dan Power Rangers. Lebih dari separuh responden juga menyampaikan bahwa acara-acara anak tersebut mendorong perilaku yang kurang baik. Dalam Horrid Henry, contohnya, tokoh utamanya diperlihatkan mengejek orangtua dan teman-temannya, lalu mengerjai mereka. Responden pada survei mengatakan bahwa adegan ini menyebabkan perilaku yang tidak sopan pada anak. Sedangkan acara dari saluran Disney, Hannah Montana, dinilai dapat menyebabkan anak tumbuh terlalu cepat.

Akibat berbagai tayangan tersebut, sekitar 2/3 orangtua mengaku kebingungan saat memutuskan, program apa yang pantas ditonton anak-anak. Para orangtua ini berharap ada sertifikasi usia disebutkan sebelum acara dimulai. Mereka juga mendesak agar stasiun TV yang menayangkan Doctor Who, Robin Hood, dan Primeval, serial fiksi ilmiah yang menampilkan mahluk-mahluk futuristik yang mengejar manusia, memindahkan jam tayangnya setelah pukul 21.00.

Kathryn Crawford, editor The Baby Website, mengatakan, “Semua anak menderita akibat mimpi buruk tersebut. Tidak perlu diragukan lagi bahwa menonton kekerasan dan permusuhan yang tidak perlu di televisi telah memberikan kontribusi terhadap fenomena ini.”
DIN
Sumber : The Daily Mail

01036prasekolah

KENAKALAN anak diidentikkan dengan ketidakmampuan orangtua mendidik. Padahal, dalam penelitian, faktor pencetus kenakalan disebabkan enzim yang tidak seimbang. Benarkah?

Banyak orang beranggapan jika anak nakal itu disebabkan lingkungan atau orangtua yang tidak mendidik anak-anaknya dengan baik. Sebenarnya anggapan itu ada benarnya. Namun, dalam penelitian yang dilakukan Institut Psikiatri di London, Inggris. Hasil penelitian yang dilansir New Scientist mengungkapkan, enzim yang disebut monoamine oxidase A atau MAO-A memiliki pengaruh pada perilaku agresif anak.

Anak yang lebih nakal dibandingkan dengan teman lain sebayanya memiliki enzim ini lebih banyak. Ketua Peneliti,Terrie Moffitt, melakukan penelitian dengan mengambil contoh darah dari 535 anak laki-laki dan 502 anak perempuan yang lahir di Selandia Baru dan yang terdaftar di Dunedin Multidisciplinary Health and Development Study yang dikelola Universitas Otago, Dunedin, Selandia Baru. Melalui tes darah tersebut, para peneliti memfokuskan pada tipe gen yang mengandung enzim MAOA. Tipe gen inilah yang mengendalikan perilaku agresif pada manusia dan hewan.

Kemudian para peneliti membandingkan interaksi antara aktivitas gen MAO-A dan kriminalitas serta kekerasan pada masa kanak- kanak, yang diketahui sebagai faktor penentu untuk perilaku antisosial ketika mereka dewasa. Para responden anak laki-laki kemudian dibagi menjadi dua grup berdasarkan contoh darah, tipe gen MAO-A mereka, dan pengalaman mereka pada kekerasan saat masa kanak-kanak.

Pemisahan ini mengungkapkan bahwa variasi gen MAO-A pada anak laki-laki tidak dapat dengan sendirinya memengaruhi perilaku anak tersebut ketika dewasa. Namun, kondisi ini berbeda jika mereka memiliki pengalaman kekerasan saat masa kanak-kanak dan hasilnya sangat mengejutkan.

Anak laki-laki dengan tingkat gen MAO-A rendah, tetapi mengalami kekerasan saat masa kanak-kanak memiliki kecenderungan 3 kali lebih besar untuk memiliki perilaku menyimpang saat remaja, dan 10 kali lebih besar untuk melakukan tindak kriminal saat mereka dewasa, dibandingkan dengan mereka yang juga memiliki tingkat MAO-A rendah, tetapi tidak mengalami kekerasan fisik.

Kondisi yang kurang lebih sama juga ditemukan pada mereka yang memiliki tipe gen MAO-A tinggi. Dalam kategori perilaku antisosial, ternyata hanya ada perbedaan minor antara anak-anak yang memiliki tipe gen MAO-A tinggi dan sempat mengalami kekerasan fisik dan yang tidak.

Pada akhirnya,Terrie menyimpulkan bahwa genetik memengaruhi hampir separuh dalam variasi perilaku antisosial. Dengan mengidentifikasi gen-gen tersebut, mereka berharap dapat menemukan perawatan dan penanganan yang tepat untuk anak-anak tersebut sebelum terlambat.

“Dalam penelitian tersebut diketahui bahwa kenakalan pada anak-anak juga didasari kelainan gen. Kenakalan itu hanya bisa diatasi dengan memberikan pendidikan yang baik dan benar kepada mereka,” kata dia.

Terrie menyebutkan, pendidikan yang utama dan pertama adalah keluarga. Dengan lingkungan keluarga akan terbentuk sifat, watak, dan perilaku misalkan dalam sebuah keluarga orangtua kurang perhatian terhadap anak, maka anak tersebut akan menjadi nakal (kurang terkontrol) demikian juga sebaliknya kalau lingkungan itu baik ada perhatian orang tua, maka anak akan tumbuh dengan baik.

“Dalam mendidik anak, kita harus mengetahui sifat-sifatnya misalkan anak yang mempunyai sifat pendiam kita dekati dengan halus sehingga anak tersebut mau bercerita tentang masalah yang terjadi, berarti kita menggunakan cara yang halus untuk menghadapinya. Lain lagi dengan anak yang mempunyai sifat keras, kita harus menghadapinya dengan tegas dan keras,” ucapnya.

Selain melihat dari lingkungan keluarga dan sifat anak, harus dilihat pula latar belakang keluarga. Jika dalam keluarga tersebut mempunyai latar belakang yang baik, secara otomatis anak akan meniru yang baik. Namun akan berbanding terbalik jika dalam keluarga tersebut mempunyai latar belakang yang kurang baik, anaknya akan mengikuti tidak baik pula.

“Intinya adalah pendidikan dan arahan yang tepat. Tanpa itu, anak-anak dengan kelainan gen, akan semakin agresif dan tidak terkontrol di kemudian hari,” tutur dia. (Koran SI/Koran SI/ftr)

1040187p

KOMPAS.com — Anda mungkin pernah terenyak kaget ketika mendengar pembicaraan putra atau putri Anda yang masih duduk di TK B dengan temannya. Putri Anda mengaku telah memiliki pacar. Memang sih, ketika sedang mengobrol dengan temannya, putri Anda tidak jelas-jelas menyebutkan nama pujaan hatinya. Pembicaraan di antara keduanya berlangsung sambil bermain. “Pacarku kan Daffa….” begitu kata si kecil.

Ya, umumnya orangtua pasti akan kaget mendengar kata “pacar” atau “pacaran” yang muncul dari mulut anak-anak prasekolah. Wajarkah? “Wajar kok!” tukas Seni S Sanusi, Psi, psikolog sekaligus konselor TK dan SD Al Azhar, Jakarta. Maksudnya, wajar saja kalau anak prasekolah mengatakan demikian.

Orangtua tak perlu kelewat cemas karena definisi pacar atau pacaran di usia ini berbeda dengan remaja. Di usia ini, buat anak “pacar” lebih identik dengan teman dekat, teman bermain yang mengasyikkan, dan lain-lain. Memang, bila ditinjau dari sudut perkembangan sosial emosi, anak prasekolah mulai menjalin pertemanan atau “dekat”, memeluk, dan mencium sebagai ungkapan sayang, senang berbicara dengan orang yang disayang, dan saling memberikan hadiah. Namun, umumnya hal ini dilakukan dengan orang yang lebih dewasa dari usianya, bukan dengan teman sebaya.

Wajar pula bila anak usia ini juga sudah dapat memilih temannya yang cantik atau ganteng. Ini karena jika dilihat dari perkembangan persepsi anak usia prasekolah sudah dapat memersepsi secara visual obyek yang “indah” dan “buruk”, yang cantik dan tampan, dan sebagainya. Lagi pula secara alamiah pun, manusia akan cenderung memerhatikan obyek yang memiliki penampilan fisik lebih cantik dan tampan. Jadi, wajar bila perhatian si prasekolah terfokus pada temannya yang lebih cantik atau tampan. Namun, ketertarikan anak tetap masih sebatas pada sosok teman dekat, tak ada maksud yang lebih dari itu.

Di usia prasekolah, anak belum memiliki kebutuhan akan pujaan hati seperti pada usia remaja, misalnya. Pada rentang usia prasekolah, mereka sebenarnya masih disibukkan untuk memenuhi kebutuhan mendasar mereka, yaitu makan, minum, istirahat, dan bermain. Selain juga si prasekolah masih bersikap egosentris, dimana fokus perhatian mereka adalah kebutuhan pribadinya, sehingga masih senang memaksakan keinginan.

Jadi, jangan pernah membayangkan, konsep berpacaran si prasekolah sama dengan anak-anak remaja. Konsep tentang pacaran yang dipahami oleh si prasekolah sebatas hanya terlihat berduaan, ada kontak fisik, dan bermain bersama. Persis yang sering mereka lihat di tayangan televisi dan iklan-iklan. Tidak akan ada pertengkaran, perbedaan pendapat, dan lain-lain. Untuk itu, tak perlu terlalu dikhawatirkan.

Alihkan perhatiannya
Lalu dari mana anak mendapatkan kata “pacar”, “pacaran”, atau bahkan “perjodohan”? Boleh jadi itu didapat dari tayangan televisi yang banyak bercerita mengenai hubungan dengan lawan jenis, misalnya cerita-cerita Disney seperti Cinderella, Snow White, dan lain-lain, yang selalu dikaitkan dengan putri cantik dan pangeran tampan. Mungkin juga dari sinetron atau bahkan reality show yang banyak mengupas masa pacaran di saat remaja. Bahkan, bisa jadi pula orang-orang terdekat memberikan pengaruh kepada anak tentang hubungan dengan lawan jenis; bisa saudara, paman, atau sosok dekat lainnya yang secara tak sadar “mengenalkan” arti pacaran.

Nah, ada kemungkinan kondisi ini membuat anak terpaku pada teman dekatnya. Bermain selalu dengan teman dekat itu, dan mengabaikan teman yang lain. Jika ini terjadi, orangtua perlu mengenalkan anak pada teman-temannya yang lain. Dengan begitu, kemampuan sosialisasinya semakin kaya karena dia berinteraksi dengan beragam karakter anak. Jadi, ajak anak bermain dengan teman yang lain. Bila “pacar”-nya adalah satu kelompok di sekolah, mintalah bantuan pihak sekolah (guru kelas) untuk memindahkan anak ke kelompok yang lain.

Orangtua juga perlu menyeleksi tayangan televisi. Dampingi anak ketika menonton. Jangan biarkan anak mengonsumsi tontonan yang memperlihatkan relasi lawan jenis terlalu dini, walaupun hanya sekadar gambar atau kartun. Selain itu, isi jadwal anak dengan berbagai aktivitas positif seperti keterampilan yang dapat mengasah kemampuan motorik halus dan kasar anak. Dengan begitu, fokus perhatian adalah pada pengembangan rasa ingin tahunya dan keterampilan dirinya.

Tak kalah penting, hindari terlalu membesar-besarkan minat anak ketika mulai menyinggung mengenai pacaran. Walau itu dilakukan dengan tujuan iseng sekalipun. Maksudnya, ketika anak mulai menyinggung atau mengobrol tentang pacaran, jangan malah ditanggapi walaupun hanya sekadar bercanda, apalagi sampai mengolok-oloknya. Ini akan membuat anak bersikap malu-malu. Kondisi ini akan bertambah buruk bila teman-temannya ikut menggoda. Tentunya, ini akan memengaruhi rasa percaya dirinya. Oleh karena itu, sebaiknya ketika ada obrolan tentang pacaran, segera alihkan kepada tema lain yang lebih berkaitan dengan dunia anak-anak, seperti permainan yang sedang tren, film anak-anak, dan lain-lain.

sumber : perempuan.kompas.com


My Yahoo Messenger

Yahoo


Photobucket
UNICEF

ARSIP

MULAI MENGHITUNG HARI

December 2018
M T W T F S S
« Apr    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

New Product

Photobucket
Advertisements